pentingnya kolom komentar

Posted: February 23, 2012 in coretan

Saya seorang pembaca berita di internet. Cukup antusias membaca berita-berita yang selalu up to date di internet yang serba cepat. Ketertarikan membaca di internet ini saya kira cukup beralasan. Disamping akses beritanya yang sangat cepat, ia memiliki keunggulan lain antara lain murah dengan biaya akses internet yang sangat terjangkau, hemat waktu, bisa diakses di mana saja, paperless yang konon bisa mengurangi global warming, dan berbagai keunggulan lain.

Di era digital seperti sekarang ini, saya kira tak hanya dunia jurnalistik yang berkembang pesat. Akses informasi tak hanya dikuasai oleh media masaa-media massa online tetapi juga berbagai macam situs-situs lain seperti blog hingga jejaring sosial. Apa sebenarnya yang ingin mereka jual?

Beberapa tahun lalu ketika awal mula muncul dunia infotainmen, telah mulai muncul suatu evolusi dari dunia jurnalistik. Berita-berita sudah mulai merambah menjadi berita-berita “tak penting” tentang segala tetek bengek artis dari kesehariannya hingga mendobrak dinding privasi sekalipun. Berbagai aib pun seolah menjadi hak publik untuk mengetahui. Evolusi yang kacau. Karena hal yang tak biasa ini, kalau saya tidak salah ingat, beberapa pihak sempat mempertanyakan keberadaan dunia infotainment apakah masih masuk atau telah keluar dari dunia jurnalistik. Kode etik telah menjadi bahan pertentangan untuk mengkaji.

Zaman terus berjalan, evolusi pun berlanjut. Merebaknya jejaring sosial beberapa tahun terakhir semakin memudarkan sekat dunia pemberitaan. Berita-berita tak lagi dimonopoli tentang hal-hal besar, tak cuma sebatas kalangan artis oleh infotainmen, tapi juga semua orang ingin diberitakan. Maka semakin jelas arah yang ingin mereka jual. Eksistensi diri.

Eksistensi diri kini menjadi barang yang begitu digandrungi. Semua orang berebut pencitraan. Tak ada masalah dengan hal ini, karena itu adalah konsekuensi dari perkembangan teknologi dan kebebasan berekspresi. Jika teknologi mendukung dan selama tidak ada yang melarang kenapa tidak?

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah memang untuk mendapatkan suatu pengakuan dari orang lain kita yang harus turun tangan sendiri untuk mencitrakan diri sendiri? Idealnya, menurut cerita guru ngaji saya waktu kecil konon ibadah yang paling berbobot dalah jika dikakukan dengan diam-diam. Begitu pun pandangan seseorang terhadap kita, kita adalah apa yang oranglain lihat terhadap kita. Dari sana justru kita bisa berkasa darinya. Karena diri kita bukanlah hasil monopoli diri sendiri karena pencitraan untuk diketahui orang lain.

Fenomena tersebut sebenarnya tidak hanya melanda masing-masing kita sebagai individu. Melainkan semua “orang” –dalam tanda kutip- melakukannya.

Beberapa waktu lalu saya sempat nyasar mengikuti diklat kehumasan yang diselenggarakan oleh Instansi tempat saya bekerja. Dari kegiatan diklat yang cukup singkat tersebut, hanya lima hari, saya menyadari beberapa hal. Salah satunya adalah pentingnya fungsi kehumasan untuk meningkatkan “citra” instansi di mata publik. Oh, saya baru menyadari kalau instansi saya juga butuh eksistensi diri.

Melalui diklat singkat itu pula, saya mendapatkan beberapa ilmu, beberapa metode untuk memperkenalkan “citra” tersebut melalui media apa pun, tak terkecuali internet. Melalui internet kami memperkenalkan diri di situs resmi instansi kami.

Begitu pentingnya dunia internet untuk mencitrakan diri. Terserah kita ingin mencitrakan diri sendiri seperti apa, bisa kita visualkan di sana. Tak ada yang melarang. Toh itu merupakan kebebasan semua orang. Keterbukaan informasi publik.

Karena alasan keterbukaan informasi publik pula, saya cukup tertarik dengan inovasi yang telah ada. Dimulai dari dunia jurnalistik yang mulai memodifikasi berita-berita yang dimuat, tak lagi menjadi suatu pemberitaan searah yang ditulis oleh redaktur media, melainkan langsung mendapatkan feedback dari pembaca. Feedback tersebut ditampung dalam kolom komentar. Ini suatu hal yang positif, karena salah satu indikator komunikasi yang positif adalah adanya feedback. Dari feedback ini pula sebenarnya berita bisa menjadi lebih berkembang. Kolom komentar bisa memperkaya isi berita, bahkan tak jarang sebuah pemberitaan yang salah redaksi bisa langsung “dibetulkan” oleh pembaca.

Inovasi ini menarik, terutama bagi saya sebagai pembaca. Terkadang bagi saya suatu berita akan menjadi lebih menarik apabila ada banyak komentar yang menyertainya. Terkadang pula komentar-komentar itu lebih menarik dari isi berita. Saya suka membaca komentar-komentar. Tak terkecuali membaca pertengkaran antar pembaca seperti yang biasa kita baca di halaman berita tentang sepakbola.

Ironis memang, jika komentar-komentar itu juga memiliki efek negatif seperti pertengkaran-pertengkaran tak berujung. Tapi mau tak mau konsekuensi itu harus dihadapi. Diskusi yang negatif kadang memang terjadi. Tapi itu jauh lebih dewasa dari pada pihak yang hanya ingin mencitrakan diri tapi tak mau dikritik. Toh dengan membuka kolom komentar pun tidak serta-merta akan lepas kontrol. Kontrol masih bisa dilakukan dengan moderasi oleh admin. Admin bisa memilah-milah komentar yang tidak mengganggu untuk ditampilkan. Jadi sebenarnya tak ada alasan mendasar untuk menutup diri dari dunia yang serba terbuka ini.

Untuk teman-teman yang mungkin saja akunnya masih disetting private sehingga oranglain tidak dapat menuliskan komentar di salamnya, mungkin saja dia sebenarnya belum siap untuk bersosialisasi. Begitupun pihak-pihak yang memiliki situs khusus untuk pencitraan diri tapi tidak membuka kolom komentar sebagai wujud keseimbangan informasi. Jika demikian, saya kira mereka kurang bijaksana. Karena di satu sisi terkadang mereka selalu merasa diperlakukan timpang oleh pemberitaan media lain. Menuntut informasi yang seimbang, tapi pemberitaan yang dikelolanya sendiri ternyata tidak pula menghendaki keseimbangan dimaksudkan. Ironisnya, untuk hal sekecil ini pun tidak diperhatikan. Berdiskusi lewat komentar saja tidak mau. Bagaimana itu?

Catatan tambahan: tulisan ini dilatarbelakangi karena keheranan penulis ketika membaca beberapa situs yang tidak menyediakan kolom komentar dari setiap tulisan yang dipaparkan. Beberapa situs tersebut biasanya menghadirkan tulisan-tulisan dari sisi yang berbeda dari media kebanyakan. Cukup menarik, hanya saja terkesan sangat eksklusif.

salam perpisahan

Posted: February 12, 2012 in #30HariMenulisSuratCinta

Dear seluruh sahabat proyek #30harimenulissuratcinta
Terkhusus buat bos @poscinta
para tukang pos terutama @adimasimmanuel

Kiranya jika ada suatu jenis pendidikan yang murni mengajarkan falsafah “learning by doing” adalah proyek #30menulissuratcinta ini. Saya bisa katakan itu dengan sangat yakin karena saya merasakan sendiri manfaat dari pemelajaranan ini. Tak ada pelajaran teori, tak ada matakuliah khusus, tak ada ceramah-ceramah, tak ada pemelajaran khusus menulis dalam proyek ini. Melainkan kita diajari untuk menulis, menulis, dan menulis apa saja yang ingin kita tulis.

Dari sini pula saya tahu bahwa niat adalah pelajaran awal dalam setiap pekerjaan. Karena segala sesuatu dimulai dari niat. Tentunya niat yang dimaksudkan adalah komitmen penuh untuk melakukan pekerjaan ini sungguh-sungguh. Niat adalah komitmen. Proyek ini pun meminta komitmen yang sungguh-sungguh dari para pesertanya. Secara tegas dalam syarat pembuka proyek ini dikatakan “….caranya mudah, cukup berkomitmen selama 30 Hari… untuk menulis surat cinta di blogmu”

Tentu itu adalah hal yang sangat menarik bagi para penulis amatir di dunia maya semacam saya. Selama ini, saya, jujur saja adalah seorang yang penulis moody. Saya menulis hanya jika ada keinginan untuk menulis yang dibarengi dengan mood yang baik. Selebih itu, saya memang jarang menulis. Bahkan sudah hampir setahun saya tidak menulis. Itu benar-benar mengecewakan.

Padahal saya tahu, menulis adalah salah satu hobi saya selain futsal. Tapi ternyata sangat susah melakukannya tanpa mood yang baik, sehingga saya bisa melakukannya dengan rutin. Berbeda dengan futsal, mood dalam menulis kadang tidak bisa dijadwalkan.Ia lebih sering datang tanpa direncanakan. Karena sifatnya yang semacam itu, saya sepakat bila menganggapnya sebagai suatu penghambat.

Menyadari hal itu, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah tantangan baru untuk menulis secara maraton selama 30 hari berturut-turut. Terangkum dalam proyek menulis yang bertajuk #30harimenulissuratcinta. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya, “bisa kah?”

Awalnya memang cukup ragu-ragu menerima tantangan ini, namun satu surat cinta yang saya tulis di hari pertama, seolah menjadi tonggak yang cukup kokoh untuk berani melanjutkan. Selesai menulis surat pertama itu masih timbul pertanyaan,”selanjutnya surat cinta untuk besok apa ya?” Saya yakinkan dengan jawaban “ngga tahu, yang penting surat yang sekarang diposting dulu”. Dan seperti yang kita tahu, Alhamdulillah sejauh pelaksanaan proyek ini saya…… -menghela nafas panjang- gagal!

Duh, maaf sekali pakpos, saya gagal melaksanakan komitmen awal. Surat cinta saya sering bolong, terutama surat cinta bertema surat kaleng yang harus dituliskan setiap hari jum’at. Untuk surat yang satu itu saya mengaku tidak pernah menuliskannya. Maaf.

Tapi toh, meski tidak seratus persen sempurna, saya juga merasakan manfaat yang nyata. Setiap hari, selama proyek ini berjalan, otak saya seolah dipompa untuk selalu menghasilkan ide. Tentang apa saja. Karena saya akui, saya memang tidak memiliki konsep atau ide-ide yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk menjalani proyek panjang selama 30 hari ini. Saya hanya terjun bebas. Nekat. Karena itu tak ada cara lain, saya harus mencari ide setiap hari. Itu benar-benar membuat saya terbebani. Namun, setiap kali saya menyelesaiakn sebuah tulisan, saya benar-benar puas. Saya seolah mendapatkan energi baru untuk mencari ide yang lain untuk esok hari.

Dari proyek ini pula, jemari saya seolah mendapatkan jurus-jurus baru dalam mengolah kata yang sama sekali tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Setiap kali menulis saya merasa menemukan cara baru dalam menulis. Sedangkan selama proses editing, saya bisa menemukan kelemahan-kelemahan tulisan saya sendiri. Meski saya akui masih jauh dari kata bagus.

Ketika membaca surat-surat cinta kawan-kawan yang lain pun, saya menemukan bermacam varian dalam gaya menulis yang bisa dibilang, keren-keren! Itu benar-benar membuat saya kagum dan semakin bersemangat. Saya merasa mendapatkan ilmu baru dari hasil mengamati lalu mempraktikkannya sendiri. Saya patut berterimakasih atas pemelajaran tersebut.

Sambil kembali menghela nafas panjang, saya harus mengatakan, tak ada pertemuan tanpa harus diakhiri dengan perpisahan. Hari ini pun tak terasa adalah akhir perjalanan ini. Meski begitu, tak ada perpisahan yang lebih mulia selain kita mampu mendapatkan pemelajaran darinya. Tak ada perpisahan yang lebih utama dari perpisahan yang khusnul khotimah. Dan acara gathering yang sedianya dilaksanakan hari ini, sebagai penutup rangkaian acara proyek ini, dengan berat hati tidak dapat saya ikuti. Tapi saya yakin pertemuan kita dalam proyek ini adalah baik. Akhir yang menyenangkan. Sangat menyenangkan mendapatkan teman-teman baru, memperoleh pelajaran dari tulisan-tulisan hebat (perlu diketahui bahwa beberapa blog dari kawan-kawan telah saya bookmark).

Apresiasi yang besar saya tujukan kepada bos dan para tukang pos. Atas ide yang luar biasa bermanfaat, atas kesediaan meluangkan waktu dan fikiran untuk membaca surat-surat kami yang jumlahnya ratusan setiap harinya lalu memilah sebagiannya untuk diposting di blog utama. Saya yakin, itu pekerjaan yang luar biasa melelahkan. Tak ada kata lain untuk mengapresiasinya selain kata terima kasih atas semuanya.

Baiklah, mungkin itu sedikit catatan terakhir dari saya, saya tidak perlu panjang lebar. Karena saya yakin akan lebih banyak lagi surat semacam ini dari teman-teman lainnya. Semoga acara gatheringnya lancar dan sukses. Salam untuk semua.

Dari @pung_kamaludin

.: passion :.

Posted: February 11, 2012 in #30HariMenulisSuratCinta

Niet,

 

Niet, kamu suka musik? bisa nyanyi? Tapi kamu ngga suka karaokean. Kamu pernah cerita itu. Setiap kali kamu diajak karaokean temen-temenmu, kamu pasti menolak jika memang tidak benar-benar mendesak seperti ketika yang ngajak adalah bosmu. Kamu bilang kamu memang  ngga bisa nyanyi. Ngga bisa nyanyi dalam artian bukan berarti ngga bisa menghafal lirik, tapi kamu kurang pede dengan performamu.

Aku juga  seperti kamu Niet, ngga bisa nyanyi. Bisa pun setengah-setengah. Seingatku, aku memang jarang bisa menghafal satu lirik lagu secara utuh kecuali beberapa lagu. Aku lebih sering hanya menghafal bagian reff-nya. Bagiku mengulang-ulang bagian reff  terkadang serasa kita menyanyikannya secara utuh. Kau boleh tertawa jika menganggapnya lucu.

Pengetahuanku tentang musik juga tergolong minim. Paling-paling beberapa tembang lawas yang cukup terkenal saja yang aku ketahui. Aku malas update musik. Aku tidak begitu mengetahui perkembangan musik zaman sekarang. Entahlah, meski beberapa acara televisi gencar-gencarnya menayangkan acara musik, bahkan bisa setiap hari mereka konser, tapi itu tak membuat aku semakin tertarik dengan update musik sekarang ini. Aku juga tak tahu, musik-musik yang disajikan seolah kehilangan daya tariknya di telingaku ini.

Semalam aku membaca sebuah buku. Bukan tentang buku musik. Tapi ada satu bagiannya yang menyinggung tentang maestro musik Ludwig van Beethoven. Terus terang aku tidak begitu tahu tentang karya-karya Beethoven. Salah satu karya terbesar Ludwig van Beethoven adalah Simfoni nomor sembilan. Inilah yang menarik buatku. Konon Simfoni nomor sembilan ini dibuat saat Beethoven benar-benar tuli sempurna.

Aku tertarik dengan cerita itu. Lalu aku sengaja jalan-jalan di internet untuk mengetahui rekam jejak Beethoven. Aku semakin kagum. Beethoven adalah  maestro besar. Namun siapa sangka jika perjalanannya sejauh itu dilalui dengan begitu berat. Sejak usia muda dia mengalami gejala tuli. Tuli adalah ancaman yang paling serius bagi seorang pemusik. Ia bisa menjadi akhir dari segalanya. Sejak saat itu Beethoven mulai menarik diri dari pergaulan. Karya-karyanya juga mulai seret. Hidupnya semakin nelangsa.

Dalam kondisi yang buruk seperti itu ditambah satu kenyataan bahwa hingga umurnya yang semakin menua dia belum memiliki pendamping hidup, itu membuatnya semakin frustasi. Hidupnya mulai goyah dalam segala aspek. Kehidupannya semakin asosial, krisis keuangan,hingga karya-karyanya pun semakin minim.

Usia empat puluh, ia seratus persen tuli. Satu kenyataan yang kejam bagi seorang komponis sebesar Beethoven. Tapi ia tidak pernah menyerah. Dalam kondisinya yang tuli sempurna tersebut, siapa sangka justru ia menghasilkan karya yang disebut-sebut karya terbesar Beethoven sepanjang hidupnya. Simfoni nomor sembilan. Karyanya sendiri  yang tak pernah bisa didengar oleh telinganya yang tuli. Namun kata-kata terakhirnya  sungguh tepat, “aku akan mendengarnya di surga”. 

Beethoven menghadapi penderitaannya dengan elegan!

Sebenarnya aku pernah mengatakan hal senada itu. Meski seingatku, aku mengatakannya dalam keadaan sedikit goyah.

Niet, kamu pernah patah hati? Itu terlihat seperti pertanyaan bodoh melihat kondisimu setegar ini. Dimataku kamu selalu terlihat ceria. Kamu benar-benar menikmati hidup. Aku tahu kamu seorang  wanita mandiri, tidak pernah menggantungkan apa pun kepada orang lain. Setiap kali ada masalah, kamu selalu bisa mengatasinya sendiri.

Tapi lika-liku kehidupan seseorang memang berbeda Niet. Semua orang memiliki ceritanya masing-masing. Aku pun begitu. Dalam perjalananku, tidak bisa dipungkiri, aku menginginkan kondisi yang lurus-lurus saja. Cari sekolah gampang, kuliah lancar, rejeki mengalir, menabung, membantu orang tua dll. Termasuk satu  hal, cinta. Semua orang menginginkan mendapatkannya bukan? Hidup memang terasa kurang sempurna tanpa cinta. Kalau tidak salah itu ada lagunya.

Ah Niet, kadang semua yang kita inginkan tak selamanya bisa kita dapatkan. Aku  tahu itu. Aku pun demikian. Aku pernah memiliki seorang teman wanita yang begitu aku cintai. Teman SMA. Aku sempat berfikir dia cinta sejatiku. Karena kami pun saling mencintai. Aku berharap akan menikahinya suatu hari nanti. Sebelum semuanya dikacaukan dengan kejadian itu. Dia dijodohkan dengan orang lain. Aku tahu itu sepenuhnya salahku. Karena aku terlalu lambat dalam memberikan kepastian kepanya. Cinta masih terlalu sulit buatku waktu itu. Hingga akhirnya digantikan kekecewaan yang datang begitu menyakitkan.

Hari-hari kami lalui dengan penuh kekecewaan. Dia pun sering mengeluhkan bahwa laki-laki yang dijodohkannya itu, yang sekarang menjadi suaminya, sering melukai hatinya. Tapi toh aku tak lagi bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya jalan adalah mendo’akannya agar mampu mengarungi bahtera rumah tangga bersama suaminya dengan penuh kebahagiaan.

Aku pun mencari kehidupanku sendiri. Berusaha bersikap realistis dengan kejadian itu. Tapi toh kekecewaan tak bisa dipungkiri Niet. Pernah suatu ketika aku begitu merasa depresi. Muncul suatu pertanyaan konyol  menyisakan rasa penasaran dalam kepalaku. Akhirnya kutanyakan kepada salah seorang sahabatku. “Kang, semisal seseorang tidak ditakdirkan bersama di dunia, apakah mungkin mereka akan bisa bersama di akhirat?”, jawab sahabatku waktu itu,”mungkin”. “Meskipun ia sudah menjadi istri orang lain?” Sahabatku terdiam.

Aku tahu pertanyaan itu sungguh konyol Niet. Pertanyaan yang tidak sepatutnya keluar dari mulut orang normal. Tapi aku memang merasa tidak normal Niet. Aku limbung waktu itu. Ditambah suatu kenyataan bahwa ketika aku merasa harus menemukan penggantinya, aku kembali dikecewakan oleh kekasihku setelahnya. Seseorang yang begitu kuharapkan mampu mengobati kegelisahanku, ternyata menambah beban beratku.

Itupun tak sepenuhnya salah dia. Kata seorang sahabat yang lain, she’s just not into me. Ya, memang pada akhirnya, ketika kami putus, kata-kata mirip itu memang keluar dari email darinya. Hanya email? Benar, hanya email. Ia wanita yang lembut Niet. Terlalu lembut untuk mengatakannya langsung dihadapanku. Itu alasan ia hanya mengirimkan email. Dan seperti yang dia katakan, ia hanya tak merasa nyaman denganku. Everything okay, dia hanya tak mencintaiku. Menyadari ini memang menyakitkan, tapi mengetahui kenyataan tetap merupakan hal yang terbaik. Setidaknya untuk diambil pelajaran.

Meski demikian, perjalanan harus tetap dilanjutkan bukan? Ujian hanyalah sarana agar kita mampu mengambil pelajaran, bukan untuk menghentikan langkah kita. Kita harus tetap melangkah dengan gairah yang baru. Hasrat yang disebut passion. Aku  mengetahui istilah itu dari buku Kevin Hall pada bab ketiga bukunya yang berjudul Aspire. Seperti judulnya, buku ini begitu menginspirasi. Meski pada dasarnya bukan karena buku ini aku bisa menghadapi pengalaman itu, tapi setidaknya buku ini menginspirasiku untuk menuliskan surat ini. Mengingatkanku bahwa setiap  penderitaan yang kita alami adalah perlu. Bukan merupakan suatu kesalahan. Apalagi menyalahkan Tuhan. Aku sadar, perjuangan-perjuangan setelahnya harus tetap dilakukan. Hingga suatu saat aku menemukanmu. Cerita kita, tentu tidak akan aku ceritakan di sini. Terlalu berjejal jika dituliskan disini😀

Niet, semalam aku memposting catatan. Kukatakan,

“Niet, kamu itu seperti malam, bahkan dalam setiap perjuanganku mengejar siang-siang, kini aku tahu, tempat melabuhkan mimpi-mimpiku adalah kamu. Gud nite.”

-surat personal-

Yth. Dahlan Iskan

Memulai karir sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134 surat kabar, tabloid, dan majalah[4], serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru. Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan diantaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan. Dahlan juga berencana membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan. Pada tanggal 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan ditunjuk sebagai pengganti Menteri BUMN.

Itu sedikit cerita bapak yang saya kutip dari Wikipedia. Jujur karena wawasan saya yang sangat kurang ini, bisa dibilang kuper (kurang pergaulan), sebelumnya saya tidak mengenal pak Dahlan. Saya baru mengenal nama bapak setelah press ramai-ramai memberitakan bapak sebagai menteri BUMN reshuffle kabinet akhir tahun lalu. Banyak pihak mengelu-elukan nama bapak, menyanjung-nyanjung bapak terkait banyak hal mulai dari kepribadian bapak hingga prestasi-prestasi yang membanggakan. Tentulah hal itu membuat saya berfikir bahwa pak Dahlan Iskan adalah orang yang baik. Khoirunnas anfauhum linnas. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Saya kira indikato sederhananya adalah pernyataan-pernyataan positif dari orang-orang sekeliling bapak terkait diri bapak. Meski klausul ini juga tidak berarti sebaliknya. Bahwa orang yang banyak dicaci maki masih belum tentu orang itu buruk. Karena saya mempercayai omongan orang yang baik-baik bukan yang buruk-buruk.

Saya mengenal bapak dari orang lain, terutama dari media, lalu saya coba mengenal bapak secara personal. Saya mulai dengan membaca catatan-catatan bapak. Penilaian positif semakin bertambah kepada bapak. Saya kira tulisan-tulisan bapak punya karakter yang khas. Sangat wajar bila melihat latar belakang bapak sebagai seorang jurnalis. Tapi bukan itu yang saya maksudkan. Kemampuan bapak dalam menyederhanakan setiap permasalahan dalam tulisan itu mengesankan. Mudah dipahami. Lebih mirip tulisan-tulisan Sukarno yang pernah sedikit saya baca. Kemampuan seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan. Ia mampu menguraikan permasalahan yang rumit tanpa menghilangkan esensi dari kerumitannya itu sehingga mampu dipahami semua kalangan, baik dari level atas hingga level bawah. Bukankah itu yang disebut komunikasi yang efektif pak Dahlan?

Beralih ke permasalahan yang lain. Saya menduga pak Dahlan ini juga punya sisi religius yang tinggi. Maaf, saya sedikit lancang karena saya sekali pun belum pernah mengenal bapak secara personal. Saya memang tidak mengetahui keseharian pak Dahlan Iskan. Saya tidak pernah berjama’ah bareng bapak, saya tidak pernah silaturrahim dengan bapak, dan lain sebagainya. Tapi saya bisa merasakan itu dari tulisan-tulisan bapak. Maaf sekali lagi jika saya gegabah dalam membuat penilaian, tapi asalkan penilaian itu positif boleh kan?

Kembali saya lanjutkan. Saya sering mengamati dari banyak tulisan-tulisan pak Dahlan ini sering mengutip istilah-istilah agama. Bagi saya itu suatu ide yang cemerlang. Menurut subjektifitas pribadi saya, memadukan dua unsur antara agama dan duniawi itu tidak tidak mudah, karena dalam hal ini bapak tidak sedang berceramah/berkhotbah. Kecenderungannya istilah-istilah agama hanya pantas digunakan saat khutbah sedangkan dalam bahasa-bahasa ilmu umum akan menggunakan istilah populer tersendiri. Cara seperti itu diperlukan ilmu tidak sekedar mengerti tapi benar-benar memahami sehingga mampu menjembatani antar dua kutub yang ‘sepertinya’ berseberangan. Misal saja dari salah satu judul tulisan bapak “Fajar Lazuardi di Bahtsul Masail Gula Legi”. Istilah Bahtsul Masail lebih sering digunakan oleh ulama-ulama Nahdlotul Ulama ini erat kaitannya dengan proses pembahasan permasalahan-permasalah agama yang timbul di masyarakat. Lalu pak Dahlan ‘meminjam’ istilah ini untuk menunjukkan betapa ‘kompleksnya’ permasalahan yang timbul dari urusan gula ini. Tentunya masih banyak tulisan bapak yang semacam ini semisal “Jangan Paksa Tiba-Tiba Makrifat”, “Neraka di Manajemen Musyrik” dll.

Sampai di sini, saya sudah punya satu kesimpulan. Itu berarti pak Dahlan Iskan membuat dua terobosan. Pertama mampu memisahkan sekat antara orang-orang level atas dengan rakyat jelata dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa mengurangi esensi. Kedua, mampu merobohkan dinding pemisah yang ‘seolah’ memisahkan antara urusan agama dengan urusan duniawi.

Itu kesan pertama yang saya rasakan setelah membaca tulisan-tulisan bapak. Kesimpulan yang mungkin terlalu sederhana. Tapi kesan positif itu semakin berlanjut, pak Dahlan. Ketertarikan saya membaca tulisan- tulisan bapak sepertinya tidak akan pernah selesai. Itu dikarenakan terlalu banyaknya tulisan bapak yang telah bertebaran di mana-mana. Tulisana bapak yang saya temukan di dunia maya pun, sampai saat ini belum selesai saya baca semuanya. Itu membuat saya semakin penasaran. Bagaimanakah sumber energi yang besar ini dihasilkan, hingga mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang seakan tak pernah habis.

Padahal saya merasakan, menulis itu benar-benar membutuhkan energi yang luar biasa. Mulai dari mencari ide yang akan ditulis, membahasakan ide melalui susunan kalimat-kalimat, mengedit, hingga memastikan bahwa transfer ide kita berjalan dengan baik kepada para pembaca, itu suatu rangkaian yang melelahkan. Jujur saja pak, setiap kali saya selesai menuliskan suatu catatan, itu membuat saya lemes, lebih mirip seperti ketika saya menyelesaikan lari dua putaran Lapangan Renon Denpasar setiap sabtu. Ngos-ngosan. Tapi perlu diakui pula, ketika kita mampu menyelesaikannya, kita mendapatkan suatu kepuasan tersendiri.

Dalam menulispun saya sebenarnya tidak memperhatikan teknik penulisan. Tidak mengerti. Saya hanya sekedar menulis. Itu pun masih saja ngos-ngosan. Belum lagi kendala non teknis. Pekerjaan yang menumpuk, stress di kantor, perut lapar, cape, dsb. yang terkadang membuat macet ide-ide untuk menulis.

Karena itu pula saya semakin salut dengan bapak. Di sela kesibukan bapak yang saya yakin semakin hari semakin menumpuk, tapi bapak masih mampu menyisihkan waktu setidaknya satu kali dalam seminggu untuk menulis. Benar, setelah saya telusuri di salah satu blog di internet yang memuat tulisan-tulisan bapak, saya ketahui setiap minggu pasti ada tulisan terbaru. Dan saya yakin tulisan-tulisan bapak tak hanya itu setiap minggunya tapi lebih banyak lagi. Konsistensi seperti ini yang ingin sekali saya dapatkan pak Dahlan. Saya ingin bisa menulis tiap hari, tentang apa saja. Kali ini pun saya sedang mengikuti pelatihan iseng menulis yang diadakan oleh teman-teman di dunia maya dengan judul #30harimenulissuratcinta.

Proyek ini menawarkan komitmen untuk menulis surat cinta tentang apa saja dengan gaya saja setiap harinya. Itu pun perlu saya akui pak, saya benar-benar ngos-ngosan nulis surat setiap hari. Ada saja permasalahan, mulai ide sampai urusan teknis karena kesibukan dan macam-macam. Tapi kalau dipikir-pikir, jika dibandingkan dengan bapak, toh kesibukan saya ini tidak ada artinya. Toh, bapak masih istiqomah untuk menulis. Itu yang saya salutkan. Surat ini pun sebenarnya hendak saya tuliskan kemarin. Tapi saya hanya menulis surat yang tidak jadi. Hanya satu paragraf. Itu pun terkesan dipaksakan karena waktunya sudah sangat mepet dari jam dateline. Saya masih harus banyak belajar lagi untuk istiqomah seperti bapak.

Terakhir, meski agak telat, saya ingin mengucapkan selamat atas amanah baru bapak sebagai menteri BUMN, semoga keberhasilan-keberhasilan bapak sebelumnya bisa diteruskan. Sebagai rakyat kecil pun, kami selalu berdo’a agar pengabdian orang-orang seperti bapak yang tulus dan pantang menyerah, mampu menjadikan Indonesia lebih baik. Selamat bertugas pak Dahlan Iskan. Semoga diberikan kesehatan. Saya selalu menantikan tulisan-tulisanmu berikutnya.

Dari pembaca
@pung_kamaludin

my inspiration

Posted: February 8, 2012 in Uncategorized

Selama ini kagum banget sama seorang yang bernama Dahlan Iskan. Lahir dari kalangan press dengan semangat yang luar biasa. Prestasinya menyembuhkan Jawa Pos dari masa-masa krisis yang dalam lima tahun setelahnya menjadikannya sehat bugar adalah suatu prestasi yang mengagumkan. Bahkan dalam perjalanan setelahnya, seorang Dahlan Iskan mampu memimpin PLN mengatasi krisis listrik dan menjamin pasokan listrik yang stabil di tengah kebutuhan listrik yang semakin meningkat. Kini, seorang Dahlan Iskan menerima amanah baru yang lebih besar menjadi salah seorang menteri BUMN. Kami harap prestasi Anda bisa dipertahankan Pak!

salam dari pembaca

Posted: February 7, 2012 in #30HariMenulisSuratCinta

Buat @bintangberkisah

Selamat sore kawan,
Maaf, surat ini bukan sebuah jawaban yang begitu kamu tunggu-tunggu dari semua surat-suratmu. Aku tahu, surat yang lebih kau harapkan sebagai jawaban adalah dari Kisha. Aku hanya seorang yang tak sengaja ikut membaca surat-suratmu itu. Dan tentu saja, aku juga penikmat surat-suratmu. Yup, dari sekian banyak surat-surat cinta, surat dari kamu paling kugemari. Dari gaya penulisanmu yang runtut dalam bertutur dan terasa begitu mengalir itu memiliki daya tarik tersendiri. Kamu juga menuliskannya konsisten.

Sejak pertama kali membaca surat-suratmu aku memang langsung tertarik. Aku patut berterima kasih kepada pak pos @hurufkecil yang telah mempertemukanku dengan tulisan-tulisanmu. Kalau kamu tahu, blogmu telah aku bookmark, dan aku telah dengan senang hati memfollow akun twittermu. Memang kita tidak saling bertegur sapa, kecuali satu kali saat aku berkicau tentang kesenanganku membaca tulisan-tulisanmu. Kamu menjawab ‘terimakasih’. Satu kali itu, tetapi memang aku sekedar ingin tahu adakah update terbaru dari blogmu.

Tulisan-tulisanmu keren kawan, aku tidak tahu apakah Kisha sebagai objek penulisanmu itu seorang yang benar-benr nyata atau bukan. Yang jelas, tulisan-tulisanmu begitu nyata. Aku menyukainya. Bahkan sejak minggu pertama proyek ini pun aku menjagokanmu sebagai salah satu pemenang dalam penulisan surat cinta terbaik mingguan. Meskipun akhirnya sedikit kecewa karena ternyata kamu tidak mendapatkannya. Tapi tak apalah, bagiku kamu tetap salah satu yang terbaik.

Tetaplah konsisten menulis kawan. Salam.

Penikmat tulisan-tulisanmu
@pung_kamaludin

:Denpasar, di salah satu ruang kamar kos-kosan deret empat memanjang. Gerbang pagar besi yang tak pernah dikunci. Pintu kamar tertutup. Cahaya sore digantikan lampu neon 20 Watt yang sama terang. Semilir angin dari kipas angin. Televisi yang tak dinyalakan. Duduk di atas kasur kapuk  tanpa ranjang, ukuran single bed, dengan masing-masing satu guling dan satu bantal tipis dengan dibalut sprei motiv klub kebanggaan Manchester United. Berantakan ditumpuki beberapa tas kerja.

Banner besar terlipat hasil undian grandprize ulangtahun ke-2 United Indonesia Chapter Bali masih tergeletak sembarangan di lantai. Masih belum dipajang karena terlalu besar. Tiga botol Agua, dua masih berisi dan satunya setengah isi. Satu galon aqua besar. Di sampingnya sebotol madu Sumbawa tersegel rapat. Dua buah koper ukuran besar sedang saling bertindih. Lemari kecil tertutup, menyembunyikan pakaian-pakaian kusut. Beberapa pakaian lain rela bergantung di balik pintu kayu. Batik merah yang baru dipesan, tapi kegedean.

Lantai keramik putih sedikit berdebu, kadang-akadang disapu. Korden hijau, cat tembok kuning krem. Jam dinding merah menyala, tegas menunjuk angka enam dan empat. Stop  kontak T menyambungkan kabel  Tivi, kipas angin dan stop kontak lainnya. Stop kontak lainnya menyambungkan kabel laptop. Si  sampingnya terhampar sajadah coklat yang belum dilipat. Di sisi kiri terdapat tumpukan kardus-kardus bekas, pakaian kotor dalam keranjang. Di seberangnya ada kamar mandi dengan bak yang tak di isi. Bocor, yang cukup diganti  dengan selang air grojogan.

Ini, salah satu surat cinta yang tak tahu harus ditujukan kepada siapa. Kepada diri sendiri mungkin, karena tak mungkin mengalamatkan kepada kru “bedah kos-kosan”. Ah, berantakan sekali.